Juli 2026. Bulannya parasit. Di satu sisi, kita digegerkan sama kemunculan kembali belatung pemakan daging di Amerika Serikat—makhluk yang dulu udah dianggap punah, sekarang bikin heboh satu negara. Di sisi lain, dari hutan Borneo yang lebat, datang kabar yang bikin takjub: ditemukan hiperparasit berbentuk tanduk yang “memakan” zombi.
Dua dunia, dua cerita. Satu bikin ngeri, satu bikin geleng-geleng kepala. Tapi sama-sama ngingetin kita: alam itu punya cara kerjanya sendiri, dan kadang kita nggak pernah benar-benar siap.
Dari Texas ke New Mexico: Belatung yang Nggak Diundang Kembali
Coba bayangin, lo lagi ternak sapi di Texas. Tiba-tiba, ada laporan dari USDA: belatung spiral Dunia Baru (New World screwworm) ditemukan pada anak sapi berumur 3 minggu di Zavala County, Texas selatan, 3 Juni 2026 . Padahal, parasit ini udah dianggap punah dari AS selama lebih dari 60 tahun!
Apa sih belatung ini? Bernama ilmiah Cochliomyia hominivorax, belatung ini nggak kayak belatung biasa yang makan bangkai. Mereka justru memakan jaringan hidup—daging segar—dari hewan berdarah panas, termasuk manusia . Lalat betinanya tertarik sama luka terbuka, atau lubang alami kayak mata, telinga, hidung, atau mulut. Di situ dia taruh telur, dan begitu menetas, larva-larva ini langsung menggali masuk ke dalam daging .
Gejalanya serem banget:
- Luka yang nggak sembuh-sembuh dan baunya busuk .
- Rasa sakit luar biasa, kayak ada yang bergerak di dalam luka .
- Kalau nggak diobati, kerusakan jaringan bisa parah, infeksi serius, bahkan kematian .
Dalam hitungan hari setelah kasus pertama, kasus kedua dan ketiga muncul—di La Salle County, Texas, dan satu lagi seekor anjing di New Mexico . Sampe 22 Juni 2026, total sudah 15 kasus pada hewan, kebanyakan sapi, kambing, domba, dan anjing itu . Gubernur Texas, Greg Abbott, sampai ngeluarin deklarasi bencana buat seluruh wilayah Texas . CDC juga mengaktifkan Emergency Operations Center level 3 buat ngerespons—walaupun level terendah, ini tetep serius .
Kenapa Tiba-tiba Muncul Lagi?
Ini yang bikin miris. Kita pernah berhasil membasmi mereka. Dari tahun 1950-an sampe 1980-an, AS dan Meksiko kerja bareng pake teknik pelepasan lalat steril—lalat jantan yang dimandulkan dilepasin biar kawin sama betina dan nggak menghasilkan keturunan. Berhasil! Mereka terdorong sampe ke perbatasan Panama-Kolombia .
Tapi sejak 2023, segalanya berubah. Mereka mulai menyebar lagi ke utara. “Butuh waktu lebih dari 50 tahun bagi kami untuk mendorong lalat ini hingga ke perbatasan Panama-Kolombia, tetapi hanya dalam beberapa tahun lalat ini telah menyebar dengan cepat lagi,” kata Profesor Max Scott, ahli entomologi dari North Carolina State University . Dari Panama, mereka ngerambah Kosta Rika, Nikaragua, Honduras, Guatemala, El Salvador, Belize, sampai Meksiko. Sampe Juni 2026, total sudah lebih dari 185.000 kasus pada hewan dan lebih dari 2.100 kasus pada manusia di Meksiko dan Amerika Tengah .
Dan sekarang? Texas. New Mexico. Ini bukan cuma masalah kesehatan hewan—ini ancaman ekonomi. Bisa menghabiskan biaya miliaran dolar buat industri peternakan .
Bahaya Buat Manusia?
Untungnya, sampe sekarang belum ada kasus manusia di AS yang terinfeksi di dalam negeri . Tapi ada satu kasus di Maryland, Agustus 2025, pada seseorang yang baru pulang dari perjalanan ke El Salvador. Dan dia sembuh total .
Tapi para pejabat kesehatan tetap waspada. CDC udah mengimbau tenaga medis buat waspada dan nglaporin kalau ada kasus mencurigakan . Risiko tertinggi ada pada orang yang punya luka terbuka dan tinggal atau bepergian ke daerah yang udah terinfestasi .
Dari Borneo: Hiperparasit Berbentuk Tanduk yang “Memakan” Zombi
Sekarang, dari Texas yang mencekam, kita terbang ke hutan hujan Kalimantan. Di sana, di Lembah Danum, Sabah, para peneliti dari Universiti Malaysia Sabah (UMS) lagi melakukan ekspedisi lapangan. Mereka nemuin sesuatu yang benar-benar nggak terduga .
Mereka menemukan spesies jamur parasit baru, yang diberi nama Pleurocordyceps cornusynnemata . Nama “cornusynnemata” diambil dari struktur berbentuk tanduk yang unik dan khas .
Tapi yang bikin spesies ini istimewa: mereka nggak menyerang inang langsung. Mereka menyerang parasit lain yang udah lebih dulu menyerang inang. Ini disebut hiperparasit .
Gini ceritanya: target mereka adalah semut yang udah terinfeksi oleh jamur Ophiocordyceps, alias “jamur zombi”. Jamur zombi ini terkenal banget—dia menginfeksi semut, mengambil alih sistem sarafnya, bikin semut naik ke tempat tinggi, menggigit batang tanaman, dan mati di situ. Dari mayat semut itulah jamur tumbuh dan melepaskan spora .
Tapi Pleurocordyceps cornusynnemata datang dan membajak cerita itu. Alih-alih memanipulasi semut, jamur ini masuk ke dalam tubuh semut dan mulai memakan jaringan jamur Ophiocordyceps yang sedang tumbuh. “Alih-alih memanipulasi sistem saraf serangga, Pleurocordyceps menyusup dan memakan langsung jaringan Ophiocordyceps di dalam inang,” jelas Dr. Jaya Seelan Sathiya Seelan, peneliti utama .
Bayangin kan, lo makan makhluk yang lagi makan makhluk lain. Ini kanibalisme tingkat dewa.
Nggak Cuma Satu Temuan
Ekspedisi yang sama juga menemukan spesies jamur baru yang bisa membunuh laba-laba, yaitu Leptobacillium geminatum. Dan dua spesies jamur lain yang baru pertama kali dilaporkan di Malaysia . Borneo memang gudangnya keanekaragaman hayati, dan masih banyak yang belum kita ketahui.
Kenapa Penemuan Ini Penting?
Ini bukan cuma berita aneh-aneh di sains. Jauh dari itu.
Menurut tim peneliti, penemuan hiperparasit ini punya potensi besar. Mereka bisa menjadi sumber untuk mengembangkan obat antimikroba generasi baru . Juga bisa dimanfaatkan di bidang pertanian sebagai agen biokontrol—cara alami untuk mengendalikan hama tanaman, tanpa bahan kimia berbahaya .
Dua Cerita, Satu Pelajaran
Dari Texas ke Borneo, dua cerita tentang parasit di bulan Juli 2026. Satu bikin kita waspada, satu bikin kita takjub.
Di Texas, kita diingatkan bahwa apa yang pernah hilang bisa kembali. Eradikasi bukan selamanya. Dan kalau kita lengah, dampaknya bisa besar—ekonomi, kesehatan, bahkan nyawa.
Di Borneo, kita diingatkan bahwa alam masih punya rahasia yang luar biasa. Kompleksitasnya, cara kerjanya yang saling terkait, dan potensinya yang belum kita gali—semua masih ada di sana, menunggu.
Keduanya sama-sama cerita tentang parasit. Tapi satu bikin kita ngeri, satu bikin kita takjub. Dan itu, mungkin, adalah cara alam mengingatkan kita: kita bukan pusat dari segalanya. Ada dunia lain yang bergerak, di bawah permukaan, yang kadang datang tanpa diundang, kadang menghadirkan kejutan yang bikin tercengang.